Kembali lagi dengan scammer ini di Long Live Learning Weekly Blog (yang turn out jadi Annually) edisi ke-tujuh. Tanpa basa-basi langsung aja, sikat!
Merdeka Hoax
Selagi bulan kemerdekaan negara ini masih terasa hangat, gua pengen bahas beberapa hal yang kayaknya sebel banget dah kalau enggak ditulis atau diutarakan. Jadi gini, kemarin karena ada suatu kesempatan gua harus ikut upacara peringatan kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus kemarin. Dari upacara pengibaran bendera, sampai ke upacara penurunan benderanya, kurang patriotisme apa coba.
Tapi yang paling terasa aneh dari hal-hal seremonial ini adalah istilah dan perlakuan khusus “tamu undangan”. Secara kan gua hanyalah seorang kamseupay rakyat jelata biasa, ya ikut di barisan sebagai peserta upacara. Nah anehnya, ada segelintir orang yang menurut gua juga harusnya jadi peserta upacara juga (dan emang katanya peserta juga) tapi malah mendapatkan hak dan kewajiban yang berbeda dengan peserta upacara lain, which are rakyat jelata kayak kita-kita. Sebutlah mereka orang-orang “penting”, ah elah sepeting apa sih hidup dia dibanding hajat orang banyak.
Jadi, si tamu undangan ini keren-nya itu mereka disebut loh namanya lengkapnya satu persatu, pangkat-nya, udah berapa kali naik haji-nya, bapak-emaknya siapa, dikasih tempat duduk khusus, ada tenda biar tidak kepanasan, ada LO khusus bagi mereka-mereka ini. Lah mereka ini siapa? Bukannya mereka bukan siapa-siapa kalau kita enggak bayar pajak?. Kenapa rakyat yang bahkan merupakan atasan presiden Indonesia harus berdiri panas-panasan nungguin mereka datang dulu baru bisa mulai upacaranya? Kenapa mereka boleh telat lah kita engga? bukannya yang bayar gaji mereka kita sekalian yang rakyat jelata biasa? Ah banyaklah yang jadi pertanyaan.
Tapi tidak seperti gua yang waktu muda dulu langsung berapi-api memberontak, sekarang mungkin sudah agak ke-bapak-bapak-an kali yak, jadi berhenti dulu untuk langsung berapi-api dan berkontemplasi tentang pertanyaan dan kesebelan-kesebelan ini.
“Oh mungkin ini tutorial kali untuk upacara yang mengundang “tamu undangan” beneran”
Dih, kalau mereka adalah perwakilan atau duta besar negara lain yang diundang untuk ikut upacara bendera memperingati kemerdekaan Indonesia ya wajar aja, bisa gua maklumin dan make sense lah dikit minimal. Mereka literally memang “tamu undangan”, dari negara lain, tidak ikut punya rasa kebersamaan sebagai bangsa, punya pahlawan-pahlawan yang berbeda, latar belakangnya apalagi. Lah ini? Elu siapa? Sama-sama tunduk dibawah undang-undang yang sama, dengan dasar negara yang sama “keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia” lah dia malah dipersilahkan duduk kembali di kursi empuk yang dibayar sewanya pakai pajak, dikasih tenda biar gak kepanasan? Liat noh rakyat yang ikut upacara yang panas-panasan berdiri dari awal sampai akhir, belum ditambah nunggu elu dateng telat. Elu tuh bawahan heh, sadar.
Masih Merdeka Hoax
Masih tentang ke-utopia-an kemerdekaan yang gua rasakan. Dulu, kita bisa bayangkan betapa senangnya rakyat Indonesia mendengar proklamasi kemerdekaan di Jakarta, walaupun tidak hadir langsung hanya mendengar dari radio. Beban yang selama ini dipikul dari kolonialisme akhirnya bisa lepas dalam satu hari. Tapi apakah sekarang kita bisa se-bahagia itu? Bukannya tiap tahun sama aja? Logonya aja gitu-gitu aja kok.
Bukannya harusnya ada kebahagiaan tersendiri yang terasa ketika memperingati hari kemerdekaan karena progress kita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara? Apa ada laporan presiden atau pejabat pemerintah tentang apa saja yang sudah dilakukan menjadi lebih baik dari hari peringatan kemerdekaan sebelumnya. Esensinya itu loh.
Gimana kalau gini saja, kita buat setiap upacara peringatan hari kemerdekaan itu sebagai acara pembacaan LPJ tahunan dari masing-masing pejabat yang kita bayar ini? Jadi enak kan kita tahu mereka ngerjain apa saja selain safari dan blusukan di tahun kebelakang. Mana ditulisnya “bantuan, “hadiah”, “dana” dari dia lagi, padahal dia pakai uang rakyat. Liat aja di video promosi iklan upacara bendara di masing-masing provinsi, “Terima Kasih pak Anu, Bu ini”. Dih mereka mah bukan orang yang kasih bantuannya, kan belinya juga pakai uang rakyat tapi cuma dibranding jadi bantuan “dia” biar kepilih lagi di pemilu selanjutnya.
Apa bener Kemerdekaan Ke-81?
Pernah sebel sama orang tua yang tolol? Dia tuh sebenernya udah tua nih, tapi gabisa apa-apa, gatau harus ngapain, kayak ngak mencerminkan umurnya gitu loh? Nah kalau pernah itulah gambaran sederhananya Indonesia yang sekarang di kemerdekaan ke-81. Kemerdekaannya ga salah-salah ke 81, tapi apa benar kedewasannya dan progress berbangsa dan bernegaranya sudah mencerminkan negara yang sudah merdeka selama 81 tahun? Kayaknya engga deh.
Sepertinya kata-kata “umur tidak mencerminkan kedewasaan” itu Indonesia banget deh untuk sekarang, tapi gatau besok. Kalau kita tarik progress negara-negara lain yang berumur 81 tahun udah sampai dimana, kayaknya negara kita udah jadi orang tua yang gabisa apa-apa itu. Jangan jauh-jauh bandingin dengan negara eropa deh, di asia tenggar aja dulu yang tetanggaan. Ambil contoh Singapura, dia di tahun yang sama di 2026 ini berumur 61 tahun dari kemerdekaannya di tahun 1965. Apakah ini yang diangkat drama Cina sebagai anak CEO yang menyamar? oh tentu tidak. Struggle-nya sama, mulai dari bawah-nya sama, bahkan mereka mulai dari lebih susah dari Indonesia dengan ketersediaan sumber daya alam yang minim.
Mau contoh lain? Boleh kita ambil Vietnam yang beda ultahnya cuman beberapa hari dari kita. Ini ibarat teman satu angkatan yang datang pas reuni yang nyolot dengan sombongnya udah punya rumah 12, mobil 76 dan istri 29. Padahal dia dulu satu bangku loh pas SMA, jajan di kantin yang sama, bandel bareng, sama-sama kabur ke warnet, lah kenapa dia lebih sukses? Ya simply better.
Kita sepertinya terlalu angkuh untuk mengakui kesalahan, kemunduran atau kegagalan. Bukannya intropeksi diri, malah memperlihatkan data lain yang mendukung argumennya. Bukannya merenung kenapa negara yang dulu belajar dengan Indonesia malah jadi lebih maju dari Indonesia, malah curhat karena terlalu banyak penduduk jadi pusing di-manage, malah kasih tau kalau negara lain gapunya kebebasan berpendapat padahal di negara ini juga dikit-dikit UU ITE.
Sudah dulu, ngantuk dan kepanjangan
Selagi masih bahas UU ITE, saya juga mau mengamankan diri saya dengan kata pesanan pandji: “Semua yang saya tulis di blog ini adalah semua yang menurut keyakinan saya”. Jadi mohon maaf ya om-tante, ini hanya dari keyakinan saya saja, takutnya menyinggung gitu loh. Hehe
Sebelum ditutup, boleh dong berkunjung-kungjung dikit ke media anak muda banget yang katanya bakal hits dan ngetop bentar lagi ini: katali.id
Kita akhiri dulu 3L Weekly Blog Edisi Ke-Tujuh minggu ini. Semoga waktu luang yang gua luangkan ini dapat berdampak untuk siapapun dan terutama untuk diri gua sendiri.
Sudah dulu, ngantuk dan sudah kepanjangan.
Sampai jumpa di 3L Weekly Minggu Depan.
Cheers,

Leave a Reply