Kalah?

“Aduh, kalah lagi”
“Kok gini sih”
“Ah, padahal sudah berjuang sebisanya”

Sebelum jauh, tulisan kali ini ada disclaimer statement-nya:
“Tulisan ini tidak bermaksud untuk menyinggung dan merendahkan pihak manapun, untuk kesamaan nama, case study, tokoh, dan hal lainnya adalah sebuah ketidak-sengajaan yang indah”

Kalah adalah sebuah lawan kata dari menang. Untuk dipahami, di dunia yang menakjubkan ini akan ada selalu dua sisi yang saling melengkapi tapi saling bertentangan. Hitam dan Putih, Gelap dan Terang, Kaya dan Miskin, serta Tolol dan Egois? Oh, kau terlalu jahat tuan. Serakah sekali hidupmu, Tolol dan Egois itu bukan sesuatu yang saling bertentangan tapi kenapa kau makan semuanya?

Seumpama

Alkisah, di suatu negara terpencil di planet pluto yang demokratis. Diadakan sebuah pemilihan kepala negara yang baru dari kedua putra bangsa pluto yang sama kuatnya dalam hal elektabilitas (menurut mereka masing-masing). Namanya juga pemilihan (Election) pasti ada yang menang dan kalah, bukan? Tapi setelah diadakannya pemilihan dan keluarlah nama sang pemenang (re:kepala negara terpencil di planet pluto), yang kalah dalam pemilihan tidak mau menerima keputusan karena menyatakan adanya ketidakadilan atas pemilihan yang dilakukan. Lalu? Apa yang harus beliau lakukan?

Tidak ada satupun manusia di Dunia ini merasa bahagia atas sebuah kekalahan, tidak akan pernah. Ada banyak sekali teori yang menyatakan bahwa memang kalah adalah sebuah hal yang menyakitkan. Tentu saja, tanpa diteliti pun semua orang akan mengetahui hal tersebut. Edward D. Sturman (2019) menyatakan dalam jurnal penelitiannya tentang DVAS (Defeat, Victory and Acceptance Scale) bahwa kekalahan memiliki dampak kepada aktifitas sosial, istirahat dan tidur, pekerjaan, kedekatan terhadap makhluk lain dan lainnya, namun hal tersebut hanyalah sebuah dampak yang berjangka pendek. Solusinya hanyalah bermental lebih besar untuk menerima kekalahan dan mempersiapkan pertarungan yang selanjutnya dengan sebaik mungkin, salah satunya adalah dengan cara memperbaiki kesalahan di masa lampau.

Sulit? Tidak. Hanya kata-kata “bermental lebih besar” menunjukan seberapa berkualitasnya seseorang. Mari kembali lagi dalam hal pemilihan kepala negara di Planet Pluto. Salah satu cara yang dapat dilakukan ketika masih belum dapat menerima keputusan hasil pemilihan adalah lapor ke Mahkamah Konstitusi

Lapor ke Mahkamah Konstitusi

Jika beliau yang kalah tersebut dan merasa ada ketidakadilan dalam pemilihan yang dilakukan. Beliau dapat melaporkan kecurangan tersebut ke MK (Mahkamah Konstitusi) paling lambat tiga hari setelah pengumuman Pemilihan disebar, dan memang MK berhak atas masalah ini. Perkara tersebut juga dapat disebut dengan PHPU (Perselisihan Hasil Pemilihan Umum). Hal tersebut bukanlah hal yang asing bagi negara ini, tapi mungkin tidak bagi masyarakat Pluto, karena sebenarnya PHPU pernah dilakukan di Pemilu Presiden RI tahun 2014 oleh pasangan Prabowo-Hatta. Namun PHPU pada tahun 2014 tersebut ditolak oleh MK karena tidak memiliki bukti yang kuat. Bukti yang kuat dan jelas atas kecurangan yang dilaporkan ke MK dapat memicu diadakannya pemilihan ulang oleh Komisi Pemilihan Umum.

Pemilu ulang pernah dilakukan di Indonesia, walaupun belum setingkat pemilihan ulang Presiden dan Wakil Presiden. Pada tahun 2018, di Kota Cirebon dilakukan pemilu ulang dikarenakan kotak suara yang disediakan dibuka tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan memiliki bukti yang kuat. Oleh karena itu, MK memerintahkan KPU untuk melakukan Pemilu Ulang. Tapi bayangkan Pemilu ulang dilakukan untuk tingkat kepala pemerintahan? Akan ada berapa ratus orang meninggal lagi yang terjadi? berapa banyak biaya yang dikeluarkan? dan seberapa banyak golongan yang terbelah negara ini? Jika hal tersebut hanya dikarenakan ketidakmampuan beliau menerima kekalahan tanpa ada bukti kecurangan yang jelas?

Consession Speech

Selain itu, ada hal yang disebut sebagai “Consession Speech” atau pidato kekalahan ketika beliau tidak punya bukti yang kuat akan kecurangan dan memperkeruh masalah, seperti yang dilakukan oleh Basuki Cahya Purnama (https://www.youtube.com/watch?v=XBZ8MHZmu2w) dalam Pilkada DKI Jakarta Tahun 2017.

Consession Speech yang baik harusnya berupa ajakan kepada pendukung dan semua pihak yang terlibat kekalahan untuk menerima kekalahan dengan lapang dada, memproses kekalahan dengan bersama-sama serta dalam waktu bersamaan menyatukan kembali bangsa yang terpecah belah akibat Pemilu.

Langsung saja, dalam setiap kompetisi atau apapun akan selalu ada menang dan kalah. Bukan tentang dirimu menjadi yang menang atau kalah, tapi bagaimana cara kita menghadapi kemenangan dan kekalahan. Sesederhana jangan pernah ikut dalam sebuah kompetisi untuk tidak merasakan sebuah kekalahan. Tidak pernah kalah tidak mencerminkan seseorang pernah menang bukan? Bisa jadi tidak pernah kalah karena tidak pernah ikut dalam kompetisi? Jadi, kalah bukanlah hal yang sangat buruk diatas segalanya. Bahkan, cara kita dalam menanggapi kekalahanlah yang menunjukan seberapa pantas kita untuk menjadi pemenang.

“Membangun suatu bangsa bukan melulu soal menjadi pemimpin, kita bisa berjanji kepada pendukung untuk mengawal pemimpin yang menang atau membangun dengan jalan dan gaya yang lain. Betapa indahnya? Bukan?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll Up