Halo halo, selamat datang di Long Live Learning Weekly Blog edisi ke-enam, Pahlawan | #6. Tak terasa sudah satu bulan sejak terakhir update di edisi ke lima, soalnya satu bulan terakhir gua habiskan pergi ke luar kota karena ada project pembuatan film dokumenter. Harusnya sih kalau sesuai timeline yang udah gua buat, proses produksi dan paska produksinya cuman menghabiskan waktu 2 minggu, tapi ya namanya project kreatif dan kesenian, apalagi melibatkan pihak ketiga. Alhasil project harus ngaret sampai satu bulan.
Oh iya juga, karena ini blog pribadi gua kenapa gak gua sekalian aja promosi disini ya. Nah, jadi untuk teman-teman yang hendak dan ingin menonton hasil karya yang saya buat kemarin dengan menghabiskan waktu kisaran 1 minggu untuk produksi dan 3 minggu proses revisi sampai final, bisa nonton disini ya.
Okay cukup sepertinya untuk opening, jadi kita langsung saja.
Efek Diderot
Sejauh ini, mengetahui istilah bernilai satu ini dari sosial media adalah salah satu poin plus dari penggunaan sosial media yang selama ini gua pertanyakan. Efek diderot atau efek domino dari sebuah konsumsi awalnya berasal dari seorang filsuf. Ah sorry malah jadi kayak buku teori ini blog, oke kita skip aja pembahasan teoritis ini biar untuk lo orang yang tertarik dengan istilah ini dapat mencari dan mengulik sendiri dengan lebih lanjut. Biar meningkatkan niat baca juga gitu maksudnya, hehe.
Jadi intinya, efek diderot ini menggambarkan bahwa ketika kita melakukan pembelian atau konsumsi sebuah barang, hal tersebut juga dapat mempengaruhi tingkah dan perilaku kita kedepannya setelah membeli atau mengkonsumsi barang ini. Sejauh ini sih begitu menurut gua. Nah setelah baca ini, gua jadi tersadar bahwa ada banyak sekali pengaplikasian efek diderot ini dalam hidup gua. Contohnya, dulu sebelum gua punya PC dengan spek yang mumpuni untuk pekerjaan, gak ada tuh terlintas pengen bagusin desk setup, pengen upgrade kursi, monitor, mouse, keyboard, atau lain-lain biar estetik.
Namun, semua pikiran konsumtif itu muncul hanya karena PC yang sudah di upgrade. Padahal dulu dengan PC yang harus kerja dengan paksa, fokusnya cuman bagaimana memaksimalkan sumber daya yang ada dengan potensinya biar hasilnya maksimal, mau itu pakai mouse bekas, mau itu pakai monitor yang ukuran kecil, asal kerjaan tetap terjaga mah aman. Itu contoh aja dari gua, tapi mungkin setiap orang mungkin berbeda-beda. Ada yang dari beli mobil, ada yang dari beli motor, beli hape dan masih banyak lagi.
Sebuah hal yang menurut gua patut direnungi dan disadari. Walaupun secara tidak langsung kita semua memang memiliki kemauan dan harapan untuk maju dan berkembang, baik dari segi kualitas hidup, pekerjaan maupun hal lainnya.
Dulu yang gua pastikan cuman apakah pembelian atau konsumsi ini merupakan sebuah asset atau beban saja, mungkin sekarang gua akan lebih bijak dengan juga mempertimbangkan konsumsi atau pembelian dari efek diderotnya konsumsi tersebut.
Kalau Soeharto kita anggap pahlawan, kenapa Belanda gak sekalian kita kasih gelar pahlawan juga?
Topik selanjutnya yang pengen gua bahas adalah yang ramai akhir-akhir ini tentang penyematan gelar pahlawan kepada mantan presiden kita tercinta, bapak soeharto. Sampai situ mungkin beberapa orang sudah mengganggap fenomena ini lucu, eits tapi tunggu dulu, ini Indonesia bos. Hal yang lucu bisa kita buat lebih lucu lagi. Gelarnya diberikan bersamaan dengan penyematan gelar pahlawan kepada pahlawan yang sebenarnya, mbak Marsinah. Kan lucu.
Bukan soal penyematan gelar pahlawan kepada Soeharto yang dihargai jasa-jasanya yang telah memimpin negara ini di masa terdahulu (ya walaupun gitu lah ya). Tapi penyematannya diberikan pada saat yang bersamaan dengan seorang Marsinah yang merupakan “korban” dari jasa-jasa kepemimpinannya. Kan aneh. Ini kayak kita ngasih pernghargaan ke Tuan Crab sebagai pengusaha dengan pembagian gaji yang tidak masuk akal, tapi secara bersamaan kita juga memberi penghargaan kepada Spongebob karena telah menjadi satu-satunya pegawai yang mau dibayar dengan gai yang tidak adil. Kan lucu (2).
Jika kita mau pakai konsep menghargai jasa-jasanya di masa lampau, kenapa gak sekalian kita kasih gelar pahlawan kepada Belanda yang telah menjajah Indonesia. Lah emang penjajahan Belanda gak meninggalkan banyak hal yang positif di Indonesia dari dulu sampai sekarang? Kemajuan infrastruktur, sosial budaya, bermunculan kaum-kaum intelek yang diberikan kesempatan belajar, dan masih banyak lagi untuk disebutkan satu persatu. Bahkan ada beberapa bangunan yang merupakan peninggalan penjajahan Belanda malah masih kokoh berdiri daripada yang dibuat “Akamsi”.
Tapi kembali lagi, tidak dapat kita pungkiri memang sejarah ditulis oleh pemenang kan. Pemenang yang berkuasa untuk menentukan siapa pahlawan, kenapa jasa-jasanya dihargai. At least dari fenomena ini kita tahu bahwa pihak yang berkuasa sekarang dan saat ini adalah pihak pemenang yang masih merupakan bagian dari “Pahlawan Soeharto”.
Sudah dulu, ngantuk dan kepanjangan
Sebelum mengakhiri edisi minggu ini, gua hendak mengajak teman-teman semua untuk tetap mengawal RUU KUHAP yang secara diam-diam (lagi-lagi) akan disahkan oleh DPR ketika publik sedang ramai disibukkan dengan banyak kejadian aneh-aneh lainnya di negara ini. Akhir-akhir ini, Wakil-wakil “kita” ini memang agak kurang ajar kelakuannya kepada tuannya kalau dilihat-lihat. Padahal sudah tertulis jelas di namanya bahwa mereka adalah Pesuruh Rakyat, dipilih oleh rakyat, dan tetunya memang harusnya bekerja untuk tuannya. Tapi wajar saja teman-teman, mental pesuruh memang sering begitu, susah dikasih tau, batu. Tunggu saja, nanti juga ngemis-ngemis lagi minta suara, dasar pesuruh!
Kita akhiri dulu 3L Weekly Blog Edisi Ke-Enam minggu ini. Semoga waktu luang yang gua luangkan ini dapat berdampak untuk siapapun dan terutama untuk diri gua sendiri.
Sudah dulu, ngantuk dan sudah kepanjangan.
Sampai jumpa di 3L Weekly Minggu Depan.
Cheers,

Leave a Reply