1,3 Milyar? Hah?

1,3 Milyar? Rupiah kah? Dollar kah? atau Dinar?
Ada apa dengan 1,3 Milyar? Saya merasakan getaran dalam hati ketika mendengar angka tersebut akhir-akhir ini. Apakah ini cinta?

Sebelumnya, saya memohon maaf kepada teman-teman yang sudah menunggu tulisan terbaru dari katamardani.com akhir-akhir ini. Seperti pejabat negara yang selalu punya alasan, saya juga hendak mengutarakan alasan mengapa akhir-akhir ini intensitas menulis di blog ini menurun. Ada beberapa alasan sebenarnya, tapi salah satunya adalah saya sedang menulis buku yang direncanakan terbit di tahun ini. Tidak ada bocoran tentang bukunya. Santai saja, tidak akan sehebat yang kita bayangkan. Tapi lebih dari itu. Maaf atas turunnya intensitas menulis disini dan mari kita mulai bahasan tentang angka 1,3 Milyar.

Kita mulai dari hal dasar. Pertama, kita setujui mata uang yang kita bahas, mari sepakati 1,3 Milyar itu bermata uang Rupiah (IDR). Selanjutnya adalah pertanyaan:
“Jika kau diberikan 1,3 Milyar Rupiah, akan kau apakan uang tersebut?”
“Jika negara hanya punya 1,3 Milyar Rupiah untuk satu periode anggaran biaya, akan dibelanjakan hal yang seperti apa untuk membuat nominal tersebut efisien?”

1,3 Milyar Untukku

1,3 Milyar untukku akan kupergunakan untuk memberangkatkan kedua orang tuaku untuk pergi ke tanah suci sebesar Rp. 212.159.463,- X 2 = Rp. 424.318.926,-. Aduh masih lebih banyak nih. Maafkan hamba kaum borjuis sekalian karena saya tidak terbiasa dengan uang sebanyak itu jadi saya kurang mengerti cara untuk menghabiskannya. Bagaimana kalau sisanya kita beli Kuaci?

1,3 Milyar Negaraku

Sebagai negara, mungkin nominal 1,3 Milyar akan sangat bermanfaat dibanding dengan melakukan pembelian kuaci secara masif yang hendak saya lakukan. Bayangkan ada berapa banyak orang yang dapat makan nasi karena mendapat beras yang lebih layak dengan nominal tersebut, bayangkan berapa banyak anak yang putus sekolah yang dapat dibantu dengan nominal sebanyak itu, bayangkan ada berapa lapangan pekerjaan yang mampu tercipta karena nominal tersebut dipergunakan untuk mengembangkan UMKM di negara yang kita cintai bersama ini.

Bukankah ada hal yang lebih banyak menciptakan manfaat yang masif ketika uang tersebut berada di tangan negara yang adil, arif dan bijaksana. Lalu pertanyaannya bergeser:
“Apakah 1,3 Milyar tersebut dipergunakan secara efisien?”

1,3 Milyar Oknumku

Sebelum kita semua berakhir dengan sakit kepala karena tidak bahkan mengerti dasar penentuan angka 1,3 Milyar. Jangan terkejut kawanku, hal yang wajar ketika terlalu banyak informasi yang kita dengar sehingga beberapa mulai terlewatkan dan terlupakan. Belum tentang perpecahan ras, belum tentang perpecahan agama, sekarang kita disudutkan dengan penggunaan uang yang santuy dan maha asyik.

Silahkan ditelaah teman-teman sekalian berita tentang 1,3 Milyar ini.

Jangan tertawa temanku, inilah wajah negri kita. Lucu, santuy dan maha asyik. Satu lagi, jangan juga hal tersebut membuat kita mengeneralisasikan jabatannya, kedudukannya atau hal lainnya karena sekali lagi, mereka hanya oknum.

Duhai 1,3 Milyar

Mungkin pilihan untuk membeli kuaci adalah pilihan yang tepat. Kuaci bisa dibagikan untuk minimal menahan lapar orang-orang yang meronta kelaparan di bumi yang makmur ini. Daripada beli pin emas? Apakah pin emas bisa dimakan? Lalu kemanakah pin-pin tersebut akan melayang ketika beliau-beliau yang terhormat nan bijaksana turun dari jabatannya? Apakah ini yang dinamakan oleh-oleh dan cinderamata ya tuanku yang mulia?

Duhai 1,3 Milyar

Sudahlah bapak-bapak sekalian. Saya tidak mengkritik tentang anda hendak membeli pin emas atau tidak. Hal yang membuat hati saya bergetar seperti jatuh cinta hanya dana yang digunakan adalah APBD. Bukankah bapak-bapak sekalian kami pilih karena kebijaksanaannya? Bukankah bapak sekalian sudah kami percaya untuk membuat hidup kami lebih makmur?

Bapak-bapak yang mulia sekalian. Saya, dan minimal teman-teman saya akan lebih setuju ketika dana APBD dipergunakan untuk membeli kuaci dan dibagikan ke seluruh rakyat yang membutuhkan. Oh iya saya lupa satu lagi pak. Bukankah laki-laki tidak boleh pakai emas yah pak? atau itu cuman di agama mayoritas saja? Percayalah pak, bapak-bapak sekalian jauh lebih berkilau dan menyilaukan tanpa adanya pin emas di jas kerja bapak-bapak sekalian.

Sekarang saya mulai mengerti betapa negara ini memiliki index kebahagiaan yang tinggi. Semua orang adalah pelawak di negri ini. Lucu, sekaligus menggemaskan. Salam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll Up