Ada apa sih dengan Kalian?

“Kalo mau hidup enak. Sekolahnya yang bener, cari kerja yang gaji-nya tinggi. Bisa beli rumah, beli mobil, hidup enak tinggal merokok-merokok sebelum dan sepulang kerja”

“Apasih Anjing?”

Commonly, hampir berapa kali kita mendengar kata-kata seperti itu dari orang-orang normal yang banyak bertebaran di dunia ini. Saya hanya bingung;

“Ada Apa sih dengan mereka?”

Hidup kita seperti yang sudah diatur. Simpelnya begini alurnya; Lahir, Masuk SD, SMP, SMA, Kuliah, Cari Kerja, Banyak Uang, Punya Anak, Punya Cucu, Eh mati.

Udah gitu doang?

Mari Hidup

Saya pernah dipaksa berpikir keras oleh salah satu kalimat agamis bahwa manusia adalah makhluk yang paling sempurna (re:spesial) yang diciptakan oleh tuhan. Sebelah mananya sih spesialnya kita?

Tuhan bukan manusia yang terlalu simpel pemikirannya untuk hanya menyatakan kamu spesial karena kamu punya akal dibandingkan dengan yang lainnya. Mungkin kamu memilih tuhan yang salah ketika nalarmu mampu mencapai nalar tuhanmu. There should be something yang harus saya pahami dari ini.

Hidup Manusia

Akhirnya saya menyimpulkan sesuatu dari hasil renungan bersama segelas Kopi Pahit Bajawa Flores, bahwa hanya manusia yang diberi kebebasan dan kemerdekaan.

“Satu-satunya harta yang paling berharga yang dimiliki manusia adalah pilihan. Kita boleh dan harus memilih apapun sendiri”

Untuk dipahami. Hanya manusia yang mampu memilih untuk jadi orang baik atau sebaliknya, berguna bagi orang lain dan sebaliknya. Bahkan, mampu memilih nasib setelah kematiannya. Rather ke surga atau negara. Kita diberikan pilihan tersebut. Malaikat? Mereka tidak punya pilihan selain surga dan taat kepada tuhan. Sama halnya seperti Iblis yang tidak punya pilihan selain neraka. Hewan, tumbuhan dan semua ciptaan tuhan yang lainnya tidak punya pilihan, as what as we have.

Then, buat apa kita hidup kalo hanya sekedar mengikuti alur yang semua orang melakukannya? Do we have the choice?. Belah mananya kita pantas untuk disebut makhluk yang paling sempurna dan merdeka?

Mungkin Buya Ham benar. Jika hidup hanya sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Jika kerja hanya sekedar kerja, kera juga bekerja.

Maka dari itu, saya putuskan untuk berhenti menyebut diri sendiri sebagai manusia. Since, manusia hanya hidup, mengikuti alur, lalu mati. Saya punya banyak hal yang lebih dari itu. Saya punya idealisme, kemauan, pertanyaan, asumsi dan banyak hal yang mengdekorasi hidup saya.

Jika kita hidup hanya untuk mengikuti alur tersebut, mending mati ajah sih kayaknya. Mereka yang diluar sana bahkan bisa melakukannya 1000x lebih baik dari kita. Mereka bisa punya uang lebih banyak, punya anak dan cucu lebih banyak. Kalau hidupmu hanya untuk sama dan melakukannya lebih buruk. Mati aja deh, nyempitin dunia. Answer me, apa sih bedanya kita dari mereka yang hidup disana? apa yang membuat kita pantas untuk hidup didunia ini kalau mereka dapat melakukan alurnya dengan lebih baik? Sarkas dikit;

Kenapa sih kita harus hidup?

Buku dan Hidup

“Kalau saya membaca buku yang saya bahkan sudah tahu akhirnya akan seperti apa, buat apa? Tidak akan ada saat dimana saya penasaran setelah lembar ini apa yang akan terjadi di lembar selanjutnya. Likewise, rasa takut, rasa gelisah bahwa kedepan hidup kita akan seperti apa setelah lembar yang kita tulis sekarang adalah kenikmatan yang hanya MANUSIA dapatkan di seluruh alam semesta ini”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *