Cara merayakan Valentine

Valentine ramai sekali, angka yang merayakannya pun terus menumbuh dan berlibat ganda. Sama halnya seperti Natal, banyak sekali umat yang bertransformasi pada H-7 sampai H+7 sebagai umat yang merayakannya.

“Lah? Kok?”

“Bukannya malah banyak yang menentang? bukannya banyak yang bilang say no say no?

Begini teman-temanku sekalian. Pada alinea pertama yang saya tulis adalah angka perayaan bukan yang menentang, setuju dan lainnya. Maaf untuk menjadi radikal, but let’s give some space and time to be open minded. Bentar ajah.

Bukankah kita lebih ingat akan hari valentine daripada orang-orang yang hendak merayakannya? Bukankah kita secara tidak langsung mengingatkan bahwa “Bentar lagi valentine loh” dengan cara membuat #tolakvalentine dan apdet “Valentine bukan budaya kita”?. But, seriously saya bukan tipe orang yang care dan merayakan hari-hari semacam itu, dan exactly, saya tidak pernah hapal tanggalnya. Then, how do i know kapan valentine datang? Dengan cara buka media social lah, maka kita akan lihat “Say no to Valentine”.

“Oh bentar lagi Valentine”

Kan jadi tau ga sih?

Same thing seperti natal. Saya bertanya pada lebih dari 5 orang teman saya yang merayakan natal. They don’t give a shit on that!. Mau diucapin, mau engga diucapin it doesn’t matter. Then kenapa kita harus ricuh dan memulai perpecah belahan? bukannya itu cara kita merayakannya?

Saya sudah pernah tulis di post sebelumnya. Kalau kita mau membawa orang terdekat yang sangat disayangkan karena berbeda jalan yang lurus dengan apa yang kita yakini bukan dengan cara mengkafir-kafirkannya kan?

Kembali lagi, kita semua merayakan Valentine. Akui saja. Bedanya hanya kau merayakannya dengan bunga dan coklat, aku dengan demonstrasi dan cari keributan.

“Menolak itu bahasa inggrisnya reject. Bukan Demonstration”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll Up