Heho. Firstly, ini website baru saya, jadi mungkin buat pembaca setia https://rezkymardanigoblog.wordpress.com/ kalo-kalo bingung kok ga apdet lagi. Saya apdet di webite baru ini. But, jangan khawatir akan ada pemberitahuan juga di blog wordpress lama. Terima kasih wordpress, you make my thought jadi sesuatu yang bisa saya salurkan ke orang lain.
Further, Hal yang pengen saya diskusiin disini sebenernya sudah disinggung di twitter saya tentang tiga hal yang paling mudah ditunggangi di Indonesia; Politik, Agama, dan Seksualitas.
Tentang Politik, Agama dan Seksualitas di Negara Kita.
Akhir-akhir ini 3 hal itu agak menyentil jempol saya untuk dituliskan dan dibahas bersama temen-temen sekalian. Berawal dari Insomnia karena susahnya dapet waktu istirahat yang manusiawi sekarang, since beres kerjaan ajah udah jam 2-3 Am. Untuk berusaha tidur itu susah, karena mata yang udah seger karena jam tidur yang udah kelewat, dipaksain untuk tidur susah. Alhasil, buka gawai kesukaan (re:Smartphone). Buka Youtube, yang keluar di feeds Politik, Agama, Seksualitas karena view yang banyak, jadi otomatis jadi trending. FUCK.
“Oh pantes, kan emang pasarnya mungkin kek gitu”
Then, Pindah ke twitter,
“Eh anjing, sama ajah isinya sampah semua”
Ges, Plis, Indonesia sudah cukup terpecah belah dengan keberagamannya, ga usah dipecah belah lagi.
Saya pernah denger dari Pandji Pragiwaksono yang agak asik ih menurut saya.
“Sekarang kan lagi anget2nya tuh Politik. Untuk ngalahin trendingnya dan naikin promosi Tour International gue ngalahin isu-isu politik itu susah banget, apalagi sekarang. Akhirnya gue puter otak, kalo ga bisa ngalahinnya kenapa gak gue tunggangi ajah tu Politik. Pura-pura ajah mau jadi calon legislatif atau eksekutif pemerintahan, padahal gue itu promosi Tour, makanya websitnya juga pilihpandji.com. Above all, itu sangat efektif”
In short. Sekarang, apalagi saat ini banget maksudnya. Konten yang ada dimanapun yah itu-itu lagi; Politik, Agama, kalau enggak konten yang paling banyak komennya gini “Ini nih konten pemersatu bangsa, ga ada cebong, ga ada kampret cuman ada sabun”. In reality, Saya punya data atas itu, coba temen-temen search konten berbau seksualitas, saya jamin bakal ada minimal satu top komen yang seperti itu. Saya Jamin!
Belum lagi yang mengkafir-kafirkan orang. Merasa beliau adalah pemuka agama yang paling banyak pengikutnya, paling benar, dan suci maksimal. But, positive thinking ajah, mungkin beliau umroh 29x dalam sebulan kan.
Pesan untuk kita bersama
Untuk Politik; Temanku, sahabatku satu tanah air. Jangan biarkan Pesta Demokrasi yang hanya digelar 5 tahunan sekali ini buat kita jadi terpecah belah. Subsequently , Teralu receh ga sih kita ga temenan gara2 disangka milih paslon pro komunis? saling salahkan? emang kita sudah kenal si Capres-Cawapres itu berapa lama sih? Lebih lama dari teman kita yang kita musuhin gara-gara Politik yah? Sini duduk, ke Kedai Sepetak, kita ngobrol sambil ngopi biar ga nge-gas sembarangan.
Untuk Agama; Kita punya keyakinan, dan atas keyakinanlah kita menentukan yang mana benar dan salah. Memang, kita pun punya rasa simpati dan beban moral kepada teman yang berjalan dijalan yang salah menurut keyakinan kita. Similarly bukan berarti kita WAJIB untuk mendiskreditkan teman kita. Pelan-pelan brai, emang dengan cara mengkafirkan beliau, temen kita akan ikut ke jalan yang bener? kan Kehed.
Untuk Seksualitas; Aku pernah mendengar dari seseorang yang “edan”.
“Orang indonesia itu memang pikirannya belum sampe kepala, masih diperut dan sejengkal dibawahnya”. Indeed, hal tersebut adalah kebutuhan. Toh makan juga kebutuhan. Kayak kalo laper kita makan tinja gitu? Karena makan adalah kebutuhan mau tidak mau harus aku penuhi. Kan GOBLOK.
“Mudah sekali untuk jadi terkenal di Flowery Country (Negara Berkembang) ini. Cukup tunggangi; Politik, Agama dan Seksualitas. Markedly, kita memang belum punya hak untuk menuntut karena negara ini belum dikategorikan sebagai negara maju. Loh, Masyarakatnya ajah gini?. Mungkin kita butuh lebih banyak kaca dirumah untuk mulai menginstropeksi diri”
1 thought on “Negara Berkebun dan Berkembang”