Mahasiswa dan Demo

Demo dulu, demo lagi, demo terus. Hai, aku mahasiswa.
Belum mahasiswa kalau belum ber-demo. Demo memasak misalnya? Hehe.

Kok ga ikut demo jhon?
Gapeduli sama asap?
Sama papua?
Gapeduli sama RUU-RUU ngawur?
Dasar Apatis.

Eksplikasi

Kau tahu betapa inginnya saya tersenyum sombong karena saya merasa lebih mahasiswa daripada mahasiswa-mahasiswa “sebenarnya” yang bertanya hal-hal tersebut. Sini ke kedai kopi, kita duduk. Saya jelaskan yah sayang.

Sebelum jauh, saya tidak menyebut ber-demo adalah hal yang salah atau benar karena saya percaya itu tugas tuhan. Saya hanya ingin mewakili suara saudara-saudara saya yang lebih memilih unjuk rasa, bukan unjuk suara. Hanya pemaparan perspektif yang berbeda, hanya.

Demo Poin

Pertama, sudah pahamkah kamu arti kata demonstrasi? Berdasarkan KBBI, demonstrasi adalah sebuah protes yang dikemukakan secara massal atau biasa disebut dengan unjuk rasa. Garis bawahi yah temanku, unjuk rasa, bukan unjuk almamater dan bernyanyi seperti supporter bola. No offense. Adakah disana tertulis tentang berteriak dibelakang pengeras suara dengan bendera slank? Kurasa tidak.

Kedua, menurut saya pribadi sejauh yang saya pahami. Demo adalah sebuah alternatif (Media) menuju solusi, tapi temanku saya lebih suka mencari solusi bukan mencari media. Sudah terlalu banyak media di dunia dan negara yang kita cintai ini, bahkan sudah mudah ditunggangi kepentingan politik, pribadi dan hal lainnya sekarang. Asalkan punya tuhan kebanyakan orang. Uang.

Alibi saya

Begini saja temanku, karena demo yang saya pahami adalah unjuk rasa. Saya lebih suka berunjuk rasa dengan tulisan saya. Sejauh data statistik kunjungan katamardani.com dan rezkymardanigoblog.wordpress.com sampai detik saya menulis ini, sudah ada 7.743 orang yang membaca tulisan saya. Bolehkah saya bertanya kakak mahasiswa berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk mengumpulkan 7000 orang untuk berkoar tanpa uang transportasi dari RAB organisasi, atau rektorat mungkin? Maaf teman, saya tidak punya uang banyak, karenanya saya lebih suka unjuk rasa dengan tulisan saya.

Asap

Lanjut boleh? atau sudah emosi? Hehe. Mari berandai mas. Andai saja kita bisa mengumpulkan 7000 orang untuk berunjuk rasa didepan gedung kantor gubernur Riau. Sepertinya akan spektakuler yah, tapi kembali lagi. Apakah mereka yang duduk dengan dasi dan gaji yang mengkilap itu mendengar? Kalau pun mendengar, apa kita bisa yakin akan ada pergerakan yang jelas dari mereka? Saya bangga sekali, teman-temanku. Media yang kita pakai sudah sangat spektakuler, Media. Sayangnya Asap dan Riau butuh solusi temanku.

Bagaimana kalau coba cara saya? Menurut saya yang bodoh ini akan lebih menyenangkan ketika 7000 orang berbondong-bondong turun ke titik api sumber asapnya dan kita membantu petugas pemadam kebakaran, polisi, TNI dan lainnya untuk memadamkannya? lebih menyenangkan sepertinya bermandi air dan asap hutan terbakar. Tanpa suara, tanpa terlihat spektakuler, hanya pergerakan yang jelas dan solutif. Saya hanya kasian petugas pemadam yang sampai tidak pulang kerumah hanya karena kewalahan padahal saya bisa membantu dengan hal yang lebih konkrit. Hehe.

RUU

Asap saja? Oh tidak, tunggu dulu. RUU? Ayo kita bahas. Menurut teman saya yang saya ajak ngobrol karena kita tidak ikut demo. Hehe. Ada sesuatu menarik yang disebut dengan Hak Uji Materi di Mahkamah Konstitusi. Setahu saya saja karena saya juga bukan anak Hukum, hal tersebut bisa menggugurkan hasil revisi undang-undang. Jujur, saya juga merasa kesal dengan DPR dan pemerintah dengan RUU yang barbar tanpa forum permintaan saran atau sosialisasi. Tapi aku belajar dari salah satu pengalaman hidupku, emang barbar harus dibalas dengan cara barbar? lalu apa bedanya kita sama mereka?

Hak Uji Materi akan diproses di Mahkamah Konstitusi dengan pertimbangan permintaan publik. Ada banyak sekali indikator yang sudah ditetapkan dalam menggugurkan suatu revisi undang-undang. Indikator tersebutlah yang akan jadi bahan uji RUU baik dari aspek formil ataupun materil. Kalau saya saja yang notabene bukan anak hukum mau dan mampu menemukan minimal satu solusi atas ini dengan keterbatasan ilmu. Mengapa saya harus menggunakan ikat kepala dengan logo universitas saya untuk berpanas-panasan? Belum tentu didengar lagi?

Rangkum

Tidak ada benar dan salah sekali lagi. Itu tugas tuhan. Sama halnya seperti agama, jika hijrah membuat dirimu menjadi lebih baik dari orang lain haruskah menyudutkan yang belum? Jika ber-demo merasa dirimu lebih mahasiswa dari yang lain haruskah menganggap yang lain tukang parkir? Hidup adalah sebuah pilihan. saya dan dikau bebas memilih jalan dan resiko sendiri-sendiri. Tulisan ini hanya mencoba memberi tambahan mata untuk melihat dari sudut yang luput. Tidak bermaksud menyudutkan dan menentukan benar dan salah. Semua orang punya jalan berjuang masing-masing. Tapi, saya sendiri lebih menyukai solusi daripada media. Hmm, sepertinya solusi lebih cantik, makanya saya suka. Salam.

2 thoughts on “Mahasiswa dan Demo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll Up