Budaya Tawar-Menawar

Selamat datang di negara penuh budaya, dan tipu daya? Budaya ramah, budaya tawar menawar, budaya mengantri? Ah, budaya tipu-tipu kali. Kita sebut itu budaya, tapi apakah benar kita budayakan? Hehe.

“Jam beli dimana? Kok sama?”
“Beli sama si abu jahal”
“Berapaan?”
“250”
“Lah, padahal sama ini 200 doang. Tawar Makanya”

Lalu dirimu yang membeli lebih mahal merasa terbebani hanya karena 50? Dan dirimu yang membeli lebih murah merasa bangga hanya karena 50? Terkutuklah kau penghamba uang kertas. Haha.

Masih banyak faktor yang bisa kita perhitungkan selain nominal. Waktu yang dikeluarkan juga bisa jadi faktor, kan ketika menawar jadi lebih lama? Mungkin? Waktu adalah uang kan semboyan penghamba uang kertas? Belum lagi keramahan penjual? Sudahlah, mungkin kau lebih kaya dari dia? Kan cuman beda 50?

Ada sesuatu yang lebih menarik soal tawar-menawar yang saya dapati daripada masalah bangga dan terbebani. Hal tersebut diawali dengan pertanyaan yang sering muncul dikepala saya akhir-akhir ini.

Kepada Siapa Saja?

Sadarilah, terkadang kita berlaku tidak adil. Pernahkah kau menawar harga ketika makan dengan orang yang kau cintai di restoran mewah? Pernahkah kau menawar ketika berbelanja di Mall? Temanku, bukankah mereka adalah orang-orang yang sepatutnya kau tawar?

Berbanding sangat terbalik ketika kita berbelanja sayur di pasar tradisional. 2 ribu rupiah-pun kita permasalahkan bukan? Kita terus berusaha membuat harga barangnya turun walaupun hanya dengan nominal kecil. Kenapa tidak kita lakukan kepada orang-orang yang punya restoran mewah?

Temanku, bukankah mereka yang berjualan di pasar tradisional lebih membutuhkan 2 ribu rupiah-mu daripada pemilik restoran mewah? Bukankah pemilik Mall sudah tidak perlu uang 2 ribu rupiah? Kenapa kita lebih suka menawar kepada orang-orang yang lebih kecil baik dari segi ekonomi maupun status sosial?

Kenapa Kita Melakukannya?

Melestarikan budaya sepertinya hanya berlaku kepada orang-orang yang membutuhkan yah? Malu adalah hal yang sering saya dengar ketika hendak melestarikan budaya tawar-menawar ini. Malu menawar kepada konglomerat? Tidakkah kita berpikir untuk malu melakukannya pada orang melarat? Mungkinkah hati kita sudah terisi penuh dengan batu akik mahal? Sehingga hal sekecil ini luput dari konsiderasi kita?

Ada kejadian yang bahkan lebih lucu dari semua itu temanku. Kita membeli telur dipasar tradisional dengan tawar menawar yang sangat alot. Tapi, kita bahkan menyisipkan tip (uang bonus) kepada orang-orang yang hidupnya sudah mewah diluar sana. Hal yang lucu dan memalukan dalam satu waktu bagi saya.

Logika Nurani

Mari kita sepakat dengan melestarikan budaya tersebut tidak dengan tebang pilih. Mungkin teman-teman sekalian berdalih dengan logika yang tidak mau merasa rugi. Fine, tidak apa. Lalu pertanyaannya adalah kenapa kita tidak merasa rugi untuk hal yang lebih mahal?

Terkadang berpikir logis adalah sebuah anugerah tuhan yang tak terpungkiri. Tapi saya rasa tuhan juga memberikan anugerah yang satu lagi. Hati Nurani. Betapa kasihan tuhan kita semua, dengan segala kebesarannya memberikan hati nurani. Namun, tidak sedikitpun kita gunakan untuk menjalani hidup.

Maafkan kami tuhan. Ini adalah cara kami melestarikan budaya, hehe.
Terima Kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll Up