Learning by Doing

Sering mendengar istilah tersebut?
Sama.

Mungkin yang kita pahami atas “Learning by Doing” adalah belajar sesuatu dengan cara melakukannya terlebih dahulu. Mirip-mirip seperti “Ala bisa karena biasa”.

I’ve been believing on it semenjak pertama kali saya mendengar istilah itu, sekitar 5 tahun lalu. Pertama kali diorientasi di Sampoerna Academy. But, sekarang saya menemukan perspektif yang berbeda dari Istilah yang lumrah kita dengar tersebut.

Bahwa, Learning by Doing bukan hanya diartikan sebagai mempelajari sesuatu sebagai subject pertama dengan melakukannya. Otherwise, being second party dalam pengertiannya juga tidak kalah menarik.

Ribet?
Sama.
Biar keren ajah jelasinnya pake kata-kata berat.
Simpelnya gini:

Let’s Talks About it

Dulu, yang saya artikan sebagai “Learning by Doing” adalah ketika saya hendak belajar memasak, dan melakukan kegiatan memasak tersebut secara terus menerus dan berulang kali, for instance. By that, kita secara tidak sadar akan melakukan suatu hal lain yang disebut Trial dan Error, dan berujung pada berkurangnya kesalahan yang dilakukan setiap memasak.

Sekarang case-nya begini.
Saya adalah orang yang senang sekali berlibur, namun jarang sekali memakai jasa Local Guide dan semacamnya karena saya berpikir;

“Buat apa sih bayar guide, orang kerjaannya begituan doang. Gampang”

Tapi. Ternyata setelah saya diberikan pengalaman yang sangat berharga oleh Tuhan untuk menjadi seorang Local Guide, saya baru merasakan betapa susah dan tidak “begituan doang” kerjaan dari seorang guide. Hei, we are the one who take the responsible of you. Semisal ada kecelakaan pada saat trip yang dilakukan, orang yang pertama sekali disalahkan adalah guide. Bukan Sopir, Kapten Kapal, atau yang lainnya.

Disamping hal tersebut. Ternyata ada banyak sekali orang yang bisa makan dan membeli pakaian yang pantas atas bayaran seorang Local Guide. It’s not only about the job. As it is, you are helping another person untuk makan, bertempat tinggal dan melanjutkan hidupnya. Mereka tidak bekerja hanya untuk dirinya sendiri. Ada seorang Mama tua yang menunggu anaknya pulang trip dan membeli beras untuk makan hari ini, ada seorang istri yang menunggu gaji suaminya untuk membeli popok anaknya. It’s not only mean that things, dude.

Other Case

Saya adalah orang yang suka risih ketika Coffee Shop favorite saya yang sangat enak menjadi tempat untuk menyalurkan imajinasi dan berkarya mulai mematikan lampu. Memutar lagu Sheila On 7 – Berhenti berharap, dengan lirik “Aku Pulang” yang ditambah volumenya. Barista yang memasang wajah yang kurang menyenangkan. Sedangkan saya sedang asik mendesain sebuah logo untuk disetor besok karena deadline.

It’s just turned out to other side, ketika saya berada di posisi waiter yang sedang menunggu satu orang yang belum kunjung pergi dan masih asyik dengan laptopnya. Guys, kita sudah bekerja dari sore, dan mungkin dari pagi. You are not the only customer we had today. Belum tekanan dari teman yang bekerja pada hari yang sama, masalah keuangan, masalah keluarga dan lainnya. Come on, we need a rest. Please.

Something to be Undestood

Perasaan kesal, risih dan marah atas kejadian serupa adalah hal wajar dan manusiawi. It’s not such a big problem sebenarnya. We just need to change perspektif kita dalam melihat kondisinya. Seperti halnya bagaimana kita melihat arti dari “Learning by Doing” dari sisi lainnya.

“Egois itu manusiawi. Namun berhati besar adalah Pilihan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll Up