Mending jadi bodoh

Loh? Kok mending jadi bodoh?
Kan kata mama harus jadi pinter? sekolah yang tinggi?
Janganlah, nanti durhaka sama orang tua. Hehe

Bodoh dan kebodohan menurut saya adalah topik yang menarik untuk diperbincangan. Kata mendasar, bahkan kita mengenal kata ini mungkin semenjak kita masih kecil. Baik ukuran tubuh, kedewasaan maupun otak dan keterbukaan menanggapi kata tersebut.

Berdasarkan beberapa artikel dan buku yang saya baca, podcast yang saya dengar, video yang saya tonton maupun obrolan dengan orang-orang terdekat. Ternyata banyak sekali hal yang saya dapatkan yang membuat saya terbesit untuk berkesimpulan bahwa menjadi bodoh atas sesuatu terkadang lebih baik. Masih bingung alasannya kenapa? Mari kita coba berargumentasi.

Contoh

Kita ambil contoh saja. Saya mendapati bahwa seorang komedian adalah orang yang memiliki tinggkat stress yang tinggi. Loh? Kan mereka lucu? Mereka kan selalu tertawa? Betul sekali.

Permasalahannya adalah mereka terlalu pintar untuk menikmati sebuah komedi, karena mereka adalah seorang komedian. Padahal, komedi adalah salah satu hal yang dapat mengurangi tingkat stress pada seseorang, namun sayangnya tidak dengan komedian. Hal yang mereka perhatikan dalam menonton sebuah komedi justru adalah punch line-nya, call back-nya, dan teknik-teknik lainnya. Sehingga mereka malah menganggap itu adalah sebuah sesuatu yang serius, bukan komedi. Lucu dan menarik dalam satu waktu, karena mereka adalah orang yang mengerti (pintar) dalam bidangnya, justru rasa nikmat yang mereka rasakan ketika menonton sebuah komedi berkurang.

Mari kita ambil contoh jika saya adalah orang yang bekerja di suatu kedai kopi. Dulu, sebelum saya mengerti “kopi” (walaupun sekarang masih belum mengerti) semua kopi terasa sama, mungkin hanya saya bagi menjadi 2, manis dan pahit. Kopi adalah sesuatu yang membuat obrolan saya menjadi lebih menarik dan memperpanjang durasi dalam satu waktu. Tanpa kopi, pembicaraan akan hambar dan terasa aneh.

Sialnya, setelah mengerti dan menjadi “pintar” atas itu, perhatian saya malah teralihkan. Bukan tentang obrolan yang berkelas, bukan tentang topik yang dibahas. Namun menganalisis cara membuat kopinya, mencari kurangnya, dan hal lainnya. Hal itu membuat kenikmatan akan sebuah kopi menjadi berkurang. Hal tersebut bukan lagi sebuah kenikmatan, tapi keseriusan yang lambat laun akan selalu bertambah.

Belum soal teman saya yang mengerti akan sebuah bangunan, bagaimana membuat bangunan dengan benar. Kita sudah kehilangan kenikmatan yang harusnya kita rasakan ketika menjadi bodoh. Kehilangan kenikmatan untuk mempelajari sesuatu dan bahagia atas capaiannya. Kita kehilangan kata “Ahhh, ternyata begini”. Sesuatu yang harusnya terasa bahagia malah terkesan serius dan menegangkan.

Poin

Saya pernah membaca tulisan seseorang yang saya kagumi, kurang lebih beliau berkata seperti ini:
“Orang pintar itu susah untuk mengambil keputusan, karena dia harus memperhitungkan banyak hal yang bahkan orang bodoh sudah berada beberapa langkah didepannya, sebelum orang pintar menyesal karena keterlambatannya”

Poinnya adalah tidak masalah untuk menjadi bodoh, terkadang bodoh adalah hal yang harus kita syukuri. Kita akan belajar dari kebodohan, kita akan belajar dari kesalahan. Jangan terlalu memuja apa yang menurutmu adalah sebuah kepintaran-mu, karena pada saat itu pula kau telah mengurangi rasa kenikmatan hidupmu. Tidak juga terlalu masalah untuk menjadi pintar, tapi terkadang kita harus lebih menikmati apa yang dulu kita bodoh-i bukan merasa lebih baik dari yang bodoh. Hal yang pasti adalah kita semua sama, kita berasal dari titik 0 yang sama yang kita sebut dengan kebodohan.

Salam.

2 thoughts on “Mending jadi bodoh

  1. Adjie Nizam says:

    Inilah kesesatan nyata dunia, orang lebih milih jadi bodoh, agama saja menyuruh umatnya utk berilmu ini ada manusia malah milih tdk berilmu alias bodoh ? WTH ?

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll Up