Bunuh Diri

Akhir-akhir ini, intensitas kata Bunuh Diri saya dengar meningkatkan pesat seiring dengan kata mental illness. Hal ini menjadi pemicu ketertarikan saya mempelajari hal tersebut lebih lanjut sekemampuan saya. Selamat datang, selamat membaca.

Istilah bunuh diri pada dasarnya sudah lama diperkenalkan dan dihadapkan pada dunia ini, bahkan dimulai dari awal peradaban Athena Kuno. Pada masa itu, bunuh diri tetaplah sama dengan sekarang yang dianggap sebagai sesuatu yang kurang dapat diterima di masyarakat. Hal itu juga yang membuat jasad-jasad bunuh diri pada masa itu tidak diberlakukan sewajarnya seperti jasad yang meninggal dengan cara yang lain.

Anehnya, hal yang memang dari dulu kurang dapat diterima oleh khalayak bahkan terus mengalami perkembangan. Belum tentang angka yang semakin naik dari tahun ke tahun, pilihan media bunuh diri, alasan dan faktor penyebab dan hal-hal lainnya.

Angka bunuh diri bahkan semakin meningkat dengan catatan bahwa ada 800 ribu jiwa meninggal akibat hal tersebut dalam 1 tahun. Diasumsikan juga bahwa ada 1 orang meninggal dengan cara bunuh diri setiap 40 detik. Bahkan World Health Organization (WHO) memperdiksi bahwa kasus bunuh diri akan menjadi penyebab kematian terbanyak nomor dua setelah penyakit jantung.

Kenapa

Ada banyak sekali hal yang dapat memicu seseorang untuk memutuskan untuk bunuh diri. Termasuk penyakit mental, depresi, atau hal-hal yang lainnya. Namun, tidak banyak pula orang yang tetap berakhir dengan cara kematian seperti itu walaupun kita semua sudah tau beberapa faktor pendorong seseorang dalam bunuh diri.

Hal yang menarik yang saya ingin bicarakan adalah tentang tekanan psikis. Mungkin benar yang dikatakan teman-teman saya, bahwa semakin tua dunia ini semakin kurang interaksi antar manusia. Hal-hal yang seperti depresi dan tekanan mental lainnya sebenarnya adalah hal yang dapat minimal dikurangi dengan cara melakukan interaksi dengan orang lain.

Selain itu, banyak sekali orang-orang yang sekarang sudah mulai mengikis rasa kemanusiaannya baik secara langsung dan tidak langsung, sengaja maupun tidak sengaja. Mereka menganggap bahwa semua orang punya kapasitas yang sama dalam menghadapi suatu masalah

“Yee cuman gitu doang kok galau sih”
“Alay banget sih lu kek begitu doang dipikirin”
“Lah elu enak gua lebih parah”

Kenapa tidak kita biarkan dia berbicara dan menyelesaikan keluhannya sebelum kita bahkan mulai mengatakan bahwa hal tersebut adalah masalah yang kecil.

Perspektif

Marilah mulai berfikir bahwa hal yang menurut kita masalah yang sepeleh bisa jadi menjadi masalah yang sangat besar bagi orang lain. Begitu juga sebaliknya, hal yang menurut kita besar juga bisa jadi hal yang receh untuk orang lain. Mulailah berfikir dengan mencoba memakai kacamata orang lain. Setiap orang berbeda, setiap manusia berbeda. Dirimu dengan kacamatamu, dan dia dengan kacamatanya.

Hal yang menurut kita kecil dan sepeleh dengan tidak berkata “ah alay banget sih” secara tidak langsung bahkan membuat kita membantu menurunkan angka bunuh diri yang semakin meningkat ini.

Mendengarkan orang lain, mencoba bersimpati dan empati bahkan sekecil apapun dapat memberikan dampak yang besar bagi orang lain. Kalau kita memang tidak akan mampu membantu menyelesaikan masalah kehidupan seseorang, minimal kita mampu membantu dia untuk tidak memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara yang tragis. Hal kecil, untuk dampak yang besar.

Sisi Lain

Hal tersebut adalah salah satu cara kecil dari sebagian banyak cara untuk membantu orang lain untuk tidak memutuskan bunuh diri.

Untuk dirimu, saya dan kita semua yang sempat berfikir untuk bunuh diri. Marilah kita berhenti untuk menjadi egois. Kita hanya tidak melihat sesuatu dengan kacamata yang berbeda dan terus menjadi sangat egois. Mari kita pikirkan seberapa besar usaha teman kita untuk meluangkan waktu, meninggalkan pekerjaannya, dan hal lainnya hanya untuk mendengar cerita tentang kedepresian kita.

Belum tentang ke-lapang-dada-an beliau untuk mendengarkan kita dan mengenyampingkan masalah pribadi dirinya. Setiap orang punya masalah temanku. Jika dia sebegitu dermawan mengenyampingkan masalahnya, meluangkan waktunya untuk mendengarkan keluh kesah kita untuk minimal menunda dan mengurangi kemauan untuk memilih bunuh diri. Mengapa kita begitu egois untuk tetap memutuskan untuk melakukan hal tersebut.

Ingat saja, ada banyak sekali orang yang telah mati memohon untuk hidup. Hanya untuk memancing, bermain musik, melihat danau di pagi hari dan hal lainnya, hanya karena beliau menyesal tidak melakukannya semasa hidupnya. Lalu mengapa kita dengan mudahnya memilih untuk memutuskan hal yang sudah pasti akan kita selali.

Mari mulai berdamai dengan kehidupan. Mulailah melakukan hal-hal yang kau yakin kau akan menyesalinya karena tidak melakukan hal tersebut ketika sudah mati. Percayalah, tanpa terasa hal tersebut akan membuatmu melupakan bahwa bahkan kau pernah terlintas untuk memutuskan bunuh diri.

Salam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll Up