Komunitas Bisnis

Kita semua pasti pernah mendengar istilah Komunitas Bisnis. Sejatinya komunitas dan bisnis adalah dua kata yang tergambar sedikit saling membelakangi satu sama lain. Satu kata menggambarkan kebersamaan dengan membuat suatu keuntungan dapat dibagi satu sama lainnya. Namun, satu kata lain lebih identik dengan individualisme dan memperkaya diri sendiri.

Sebelum jauh, saya ingin meminta maaf kepada teman-teman yang terlalu lama menunggu update dari katamardani.com. Beberapa email memang sengaja tidak saya balaskan karena saya belum tau harus jawab apa dan belum tau kapan bisa menyempatkan diri untuk menulis lagi. Namun, tulisan ini saya persembahkan untuk teman-teman yang sudah sabar menunggu hampir 2 bulan. Selamat bercengkrama dengan dirimu!

Kembali kepada bahasan. Sejauh ini terdapat 2 daerah wisata di Indonesia yang menurut saya memiliki lingkungan bisnis yang supportif dan sportif. Karimunjawa dan Labuan Bajo. Mungkin asumsi tersebut masihlah opini pribadi dari sedikitnya saya melakukan perjalanan, dan teman-teman yang memang berdomisili disana pun berhak untuk menyatakan bahwa asumsi saya salah. Semua orang punya hak untuk berpendapat.

Bisnis kok dibuat komunitasnya sih tad?
Ngapain sih?
Jelas-jelas pasti orang yang ikut dikomunitas cuma datang buat mengetahui harga pasar kan? terus jual lebih rendah dari itu?
Buat tau rahasia bisnis orang lain kan? terus menangkan pasar?
Orang namanya juga cari duit, masa mau bagi ilmu dan rahasia gratis di komunitas? emang dia siapa? Malaikat?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang muncul ketika saya pertama kali membuka topik pembahasan rencana pembuatan komunitas. Terutama komunitas bisnis yang kedua kata itu agak terkesan saling bertolak belakang.

Kiasan

Sederhananya begini, Komunitas dibuat atas dasar membuat anggotanya menjadi lebih mudah, baik, sejahtera dan tujuan positif yang lainnya. Kalau komunitas yang kau ikuti malah memberikanmu hal sebaliknya? Mungkin komunitasmu hanyalah sebuah kedok yang kapitalis gunakan untuk terus membuatmu berada di level bawah. Terus apa bedanya komunitas itu dengan LSM yang berkedok lingkungan tapi mengeruk kekayaan Indonesia? Sama-sama kedok penipuan kan? Hehe.

Sulit untuk digambarkan. Namun sederhananya seperti ini, di suatu daerah wisata yang maju pesat, ada beberapa hotel yang berdiri sejak lama bahkan sebelum daerah tersebut dikenal oleh banyak orang. Mereka sepakat untuk membagi pasar mereka berdasarkan kategori yang mereka tentukan sendiri dan range harga yang stabil, 100$ per-malam misalkan. Seperti yang banyak terjadi di kota-kota besar yang sistem ekonominya sudah terlanjur sakit untuk disembuhkan oleh orang-orang yang peduli. Datanglah orang baru yang membawa modal puluhan kali lipat lebih besar daripada mereka, karena pasokan modal yang besar beliau mampu menurukan harga menjadi 50$ per-malam dengan konsekuensi durasi modal kembali yang lebih lama, namun bukan suatu masalah karena beliau punya stok modal yang banyak untuk diinvestasikan.

Wisatawan yang berkunjung akan lebih memilih hotel dengan harga 50$ per-malam karena lebih murah dan fasilitas yang sama. Walaupun tidak kita sadari daerah wisata tersebut terkenal karena perjuangan hotel-hotel yang sudah berdiri disana sejak lama. Apakah ini yang dinamakan bisnis? Tidakkah kami yang punya sedikit modal punya kesempatan untuk minimal membuat ikan dilaut berbumbu dan berada di meja makan kami? Apa bedanya bisnis dan hutan rimba? ketika yang lebih kuat akan terus memakan yang lemah dan yang lemah bahkan tidak punya kesempatan untuk menjadi lebih kuat?

Bagaimana?

Disinilah fungsi advokasi dari komunitas bisnis harusnya diaplikasikan, dengan adanya komunitas bisnis yang kuat, keadaan tersebut dapat setidaknya di minimalisir. Komunitas punya base masa yang lebih besar dan suara yang lebih didengar untuk membuat pemain besar ikut peraturan yang sudah disepakati bersama. Tidak hanya itu, komunitas dapat membagi pasar dengan kesepakatan dari masing-masing anggota, atau minimal membagi proyek yang dapat menghidupkan yang kekuatan lebih lemah daripada yang lainnya.

Bukankah hal itu tergambar lebih indah? Dengan komunitas yang seperti itu ekonomi daerah tersebut akan lebih kuat menurut saya, Saling membantu dan tolong menolong bukannya budaya Indonesia ya? Apa cuman kedok? Ah LSM lagi. Penyerapan tenaga kerja yang lebih banyak, bisnis-bisni kecil yang sustainable dan berkembang sedikit demi sedikit dan hal positif lainnya. Apakah kau merasa rugi? Membagi sedikit keuntungan dengan yang lainnya adalah kerugian? jika iya, maka maafkan saya jika tidak sengaja memanggilmu Anjing Kapitalis, hehe.

Banting harga aja terus. Berlomba saja terus untuk memberikan harga yang lebih murah satu sama lain. Sampai semua harga produk dan jasa yang ditawarkan di negara ini jadi gratis. Ganti saja legalitas bisnis yang kau daftarkan menjadi lembaga sosial. Tidak akan ada masalah atas keuntungan yang lebih kecil kan?

Begini saja. Kita akhiri dengan sebuah pertanyaan temanku. Sebutkan perbadaan dirimu dengan monyet yang bergelantungan di hutan? Kan sama-sama memikirkan diri sendiri. Hehe

Terima Kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll Up