Menggugat Sexy Killer

“Udah nonton sexy killer belum?”
“Apaan emang?”
“Video tentang gelapnya indonesia”
“Ah, indonesia saya mah selalu benderang”

Akhirnya nonton sexy killer. Lalu beberapa jam kemudian seluruh timeline Instagram dan Twitter saya isinya rekomendasi untuk menonton sexy killer. Indonesia, memang di negara yang satu ini gampang banget membuat suatu viral dengan ceptat.

Out of everything. Firstly, ini bukan ajakan untuk menjelekan dan tidak mengapresiasi film tersebut, since tidak ada karya yang jelek kecuali yang tidak di buat. Saya cuman hendak membahas film Sexy Killer yang sangat aduhai ini dengan kacamata yang lain, dan mungkin luput dari paparan yang sangat ejakulatif.

Kita hanyut dalam aliran cerita dan seakan lupa siapa saja yang bercampur tangan dalam proses pembuatan film, ekspedisi, serta promosi. Pernahkah kita sampai memikirkan semua hal tersebut?

Kenapa?

Kita. Indonesia, emang gitu kayaknya yah. Hari ini buat #justiceforaudrey, besok udah tau orangnya gimana ganti #norespectforaudrey. Kenapa gak crosscheck dulu semuanya sebelum ditelan? Jadi kalo dianalogikan kita tuh kalo dikasih tinja buat dimakan ya dimakan dulu, baru dicari eh tadi makan apa yak? Tinja Gitu? Kan tolol.

Sekali lagi bukan melulu tentang filmnya. Hanya saja kita harus lebih dewasa dalam menanggapi semua hal, tidak langsung cerna. Ada beberapa nama yang saya dengar dari sexy killer, tapi saya lebih tertarik untuk mempelajari tokoh dengan peran “Pahlawan” daripada “Penjahat” yang sudah pasti jahat.

Siapa?

Kita lumayan sering mendengar nama “Greenpeace” di Sexy Killer. Kenapa tidak adanya pertanyaan kita tentang siapa dia sebenarnya, berasal darimanakah dia, apa kepentingannya dll. Non-Profit organization ini memang berdalih cinta lingkungan yang dibentuk di Vancouver, Canada 1971 dengan asset sebesar 59.24 million USD (2015) dan income sebesar
27.47 million USD (2011). Buat apa asset sebesar 59.24 Juta Dolar untuk mengurus lingkungan dan yang paling penting darimana Non-Profit Organization mendapat dana sebesar itu? Bukannya Non-Profit? Oh mungkin dari Donatur.

Lebih lanjut tentang donatur. Since yang kita tahu dari budaya barat tempat greenpeace berasal, Proffesionalism is the most important thing. Means, ada feedback yang ditunggu dari seorang donatur. Lagian saya belum melihat data orang terkaya di dunia masuk di dalam jajaran donatur greenpeace. Satu lagi, laporan keuangannya bisa dilihat dimana yah? Disini ga ada loh https://www.greenpeace.org/international/. Lalu apa yang diinginkan donatur atas greenpeace? Hmm tercium bau kepentingan.

Masuk ke greenpeace indonesia, Seorang pemerhati intelejen Wawan Purwanto dalam diskusi di ruang Press Room DPR-RI dengan tema: “Membongkar Motif LSM Asing Greenpeace Merusak Perekonomian Indonesia” menyebutkan bahwa Greenpeace tidak tunduk pada hukum di Indonesia. Salah satu buktinya, Greenpeace tidak pernah mendaftar, apalagi melaporkan kegiatannya ke Kesbangpol Pemprov DKI Jakarta sebagaimana diamanatkan UU No 8/1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan.

Bagaimana?

Banyak sekali kegiatan serta demonstrasi kelingkungan yang dilakukan oleh greenpeace dan sifatnya menekan. Tapi saya aneh, greenpeace indonesia tidak pernah melakukan demonstrasi yang menekan ke PT Freeport, PT Newmont dan Perusahaan-perusahaan asing yang bertengger dan meraup kekayaan indonesia secara terang-terangan. Bukan hanya meraup, menghancurkan lingkungan indonesia nya pun lebih terang-terangan daripada ini. Uhuy, kayaknya asing lebih banyak donatur daripada orang indonesia yang mudah dibodoh-bodohi dan miskin. Hal tersebutlah yang membuat saya bertanya, kenapa semua perusahaan yang dibahas adalah perusahaan Indonesia? Sepertinya merusak perekonomian nasional adalah salah satu agenda titipan yang asik.

Apa?

Pertanyaan berlanjut, Kenapa yang diekspos adalah batu bara? Lalu beberapa demonstrasi menekan yang dilakukan oleh greenpeace di bidang kelapa sawit? Kenapa harus industri-industri tersebut? Lah, orang indonesia salah satu tukang ekspor terbesar di bidang-bidang tersebut. Mungkin rokok banyak yang bilang buruk untuk kesehatan juga karena indonesia takutnya jadi negara terkaya di dunia, since petani tembakau dan lahannya salah satu paling besar di Dunia? Daripada indonesia yang kelola, mending asing ajah yang beli bahan baku terus produksi. Masalah hukum? kan asing punya banyak uang untuk sogak sogok biar hukum lancar?

Asing sudah sangat terlalu pintar teman-teman, atau kita yang terlalu bodoh?. Jika saja mereka hendak bertarung melawan indonesia masalah sumber daya, tidak ada satupun negara di dunia ini yang mampu mengalahkan negara kita tercinta ini. Caranya simpel, buat propaganda, rusak ekonominya, masuki pemikiran rakyatnya untuk menolak perkembangan ekonomi dan menang deh!

Bukti bahwa beberapa danau juga sudah direklamasi menjadi danau wisata juga tertera di salah satu tukang twit https://twitter.com/Bujangnim1/status/1117784752650473478. Jelas, reklamasi akan memakan waktu yang lama, bahkan tahunan. Bukan seperti membuat kentang goreng yang kurang dari 15 menit jadi dan siap dimakan

Kapan?

Selanjutnya, Kenapa waktu publikasi tepat di ujung-ujung masa kampanye? Dan jelas videonya tampak memang dibuat untuk tujuan itu, terbukti sejak semua nama calon masuk didalam film Sexy Killer. Kalau tidak ada mereka dan bukan mereka kan buat apa dibahas yah? Bukannya suatu pembuatan film itu butuh storyboard yang dibuat dulu sebelum visualisasi berupa video dan audio dibuat? Garis lurus bahwa film Sexy Killer sudah dibuat dan direncanakan sedemikian rupa untuk ditampilkan di saat dan momen yang tepat.

Mengapa?

Masih banyak lagi yang sebenarnya ingin saya bahas dan diskusikan bersama-sama. Sekali lagi, saya bukan menghina pembuatan dan film Sexy Killer itu sendiri. Toh bang Dandhy Dwi Laksono adalah salah satu jurnalis hebat yang saya kagumi. Hanya saja, kalimat seperti “Aku Kecewa dengan Indonesia” atau “Aku mau golput ah gada yang bener” adalah hal yang paling muak saya dengarkan setelah film Sexy Killer diluncurkan. Ayolah temanku, Indonesia itu terlalu hebat untuk hanya dilihat satu buruknya. Masih ada jutaan alasan untuk mencintai dan bangga terhadap indonesia. Kalau kita punya salah, yang dibenerin kesalahannya bukan berhenti untuk hidup karena sebuah kesalahan. Kan?

Coba cari di Dunia Maya banyak yang mereka lakukan khususnya pemerintahan untuk mengurangi dampak buruk hal-hal tersebut. Hanya saja kurang terekspos. Tidak ada alasan untuk menyerah untuk negeri yang sangat aku cintai ini. Tidak ada hal yang salah yang mereka jelaskan di film Sexy Killer, akan tetapi kita hanya diarahkan untuk mellihat dengan kacamata yang sebenarnya mereka ingin kita melihat dengan kacamata tersebut. Masih banyak kacamata lain yang bisa kita pakai untuk melihat permasalahan kompleks seperti ini.

Jadi? Sexy Killer?

Seperti yang saya jelaskan diawal, jadilah orang yang lebih dewasa dalam mencerna informasi bukan telan lalu evaluasi. Memang Sexy Killer dengan berbagai cara pandang yang berbeda selalu mengandung dua kata kunci: Udang dan Musang.

“Saya akan jauh lebih puas ketika berjuang lalu kalah dibanding dengan menyererah bahkan sebelum berjuang. Apa yang terjadi di Indonesia adalah kesalahan kita bersama, kita perbaiki bersama bukan dengan menyalahkan orang lain atas itu. Apa bedanya kita dengan mereka yang berkata bahwa indonesia bodoh karena tidak bisa mengelola sumber daya sendiri, bukan dengan mencari solusinya”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll Up